Cara mengetahui Usia Jiwa Kita:
Sebenarnya banyak sekali roh dari manusia, di kehidupannya yang
sekarang ini, menjalani kehidupan ke sekian ratus, atau bahkan ke sekian
ribu kalinya, sebagai wujud manusia. Memori kehidupan-kehidupan di masa
lalu dari setiap manusia, sebenarnya telah ada tersimpan dengan rapi di
dalam labirin otaknya. Hanya saja, tidak semua manusia bisa dengan
mudah atau mampu untuk mengakses memori kehidupan masa lalunya
(seolah-olah ada semacam tirai/hijab yang menyelimuti memori ini).
Dalam melakukan penjelajahan mencari sebuah pencerahan laku spiritual,
manusia akan menempuh jalan yang berbeda-beda, karena memang
spiritualitas, bersifat individualistis. Setiap manusia mempunyai
sejarah hidup yang berbeda sejak dilahirkan, dan lingkungan adalah salah
satu sebab terjadinya perbedaan tersebut. Hukum reinkarnasi akan
menempatkan manusia pada perbedaan lingkungan sesuai karmanya. Walau
demikian, perbedaan adalah sebuah keunikan. Setiap individu mempunyai
kehendak bebas yang tidak bisa dipaksakan. Setiap manusia mempunyai cara
masing-masing dalam mencari pencerahan batinnya. Jalan yang telah
ditempuh orang lain, belum tentu baik untuk orang lain, karena
kegelisahan seseorang dalam pencarian jati diri tentu berbeda-beda.
Wahyu Panca Gha’ib yang di Patrapkan dengan menggunakan Wahyu Panca
Laku, memori masa lalu di otak ini, bisa diakses kembali. Beberapa
atribut kelebihan dan kekurangan yang Anda bawa dalam kehidupan ini,
berasal dari kehidupan Anda sebelumnya. Karena semuanya merupakan
pengalaman, yang akan bisa membuat Jiwa belajar dan berpengalaman,
supaya menjadi ‘bijaksana’. Berikut adalah cara untuk menentukan usia
jiwa Anda.
Pertama. Jiwa baru lahir. Jiwa yang baru lahir,
adalah jiwa baru yang masih baru menjalani hidup pertama kali. Dalam
hidup ini, jiwa difokuskan pada kelangsungan hidup, kematian, dan dalam
beberapa kasus, mementingkan kecantikan/ketampanan penampilan. Jiwa baru
lahir cenderung lucu, bersemangat, lugu, dan kadang liar, namun pada
saat yang sama, sangat berorientasi pada keluarga dan berhati-hati.
Kedua. Jiwa bayi. Jiwa-jiwa bayi yang telah hidup dalam beberapa
kehidupan, sangat banyak berfokus pada perasaan saling memiliki,
berkumpul bersama teman/kelompok mereka. Mereka ingin belajar tentang
aturan, peran, hubungan serta struktur sosial. Mereka cenderung
mematuhi, disiplin, dan memiliki nilai yang kuat.
Ketiga. Jiwa
muda. Sifat jiwa muda, sama seperti kita, saat remaja berusia 20
tahunan, berfokus pada kemerdekaan dan kemajuan pribadi. Jiwa muda
memiliki keinginan untuk belajar, mengembangkan diri, dan
mengekspresikan kehendak bebas mereka. Mereka ambisius, inovatif, giat,
kadang-kadang egois dan berapi-api.
Ke’empat. Jiwa dewasa. Sifat
Jiwa dewasa, seperti orang yang sudah berumur setengah baya. Mereka
mencari keharmonisan dalam hidup mereka, dan memiliki fokus pada
hubungan, kesadaran diri, dan berempati dengan orang lain. Mereka
sensitif, diplomatik, dan kadang-kadang sedikit neurotik.
Kelima. Jiwa tua. Orang yang berjiwa tua, memiliki sifat lebih mencari
spiritualitas, kedamaian batin, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,
atau mementingkan rasa kesatuan universal dan saling keterkaitan dengan
sesama makhluk. Mereka bijaksana, sadar lingkungan sekitar, dan tidak
terikat dengan hal-hal. Mereka cenderung soliter, pendiam, dan
filosofis. Mereka adalah akhir dari siklus reinkarnasi.
Reinkarnasi merupakan sebuah sistem maha dahsyat, yang diciptakan oleh
otoritas tertinggi alam semesta (Dzat Maha Suci), yang mengikat secara
pasti, bagi semua entitas roh, untuk terus-menerus berevolusi menuju
kesempurnaan yang sempurna, dengan menempati makhluk-makhluk berdimensi
ruang dan waktu di alam semesta ini. Reinkarnasi adalah hukum yang
sangat sulit dijangkau oleh akal pikiran biasa manusia. Reinkarnasi
hanya bisa dipahami oleh kesadaran tinggi atau murni manusia, yang telah
memahami hakikat Hidup kehidupan dunia akherat. Dzat Yang Maha
Pengampun, telah berkehendak, terhadap tiap-tiap makhluk untuk masuk
dalam mekanisme reinkarnasi, jika belum mendapatkan yang sesungguhnya,
yang sebenar-benarnya Inna Lillaahi Wa Inna Illaaihi Rojiun. Mekanisme
ini merupakan pemakluman Dzat Maha Suci atas laku manusia yang
menujunya, namun memiliki kecenderungan lalai. Semua ini adalah kehendak
Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dan hanya kepada-Nya-lah segala sesuatu
kembali.
Cara mengetahui, apakah jiwa kita pernah mengalami Reinkarnasi atau Tidak:
Jiwa yang sudah pernah mengalami reinkarnasi.
Dalam tradisi Islam, kepercayaan adanya reinkarnasi ini banyak dianut
kalangan sufi, termasuk saya sendiri tempo dahulu. Mereka percaya, bahwa
banyak sisipan ayat-ayat dalam kitab Suci, yang menyiratkan kebenaran
adanya reinkarnasi. Meskipun banyak penyair yang mengutarakannya, secara
tersembunyi dalam syair-syair yang ditulisnya, seperti Jalaluddin Rumi,
Ibnu al-arabi, maupun Saadi dari Shiraz. Reinkarnasi saat ini, telah
menjadi pembahasan ilmiah kalangan intelektual barat. Dan beberapa
perguruan tinggi di dunia barat mencantumkan permasalahan paranormal,
termasuk didalamnya tentang reinkarnasi sebagai mata kuliah pada
fakultas kedokteran dan psikologi.
Penelitian yang logis,
objektif dan tentu saja netral telah mampu menepis secara perlahan
tentang kemustahilan adanya reinkarnasi. Para peneliti telah menemukan
bukti bahwa reinkarnasi bukanlah merupakan sesuatu yang takhayul, dan
benar-benar ada dalam kehidupan manusia. Reinkarnasi berlaku untuk semua
makhluk hidup, yang belum tanggung jawabnya di dunia belum
terselesaikan. Hal ini didukung adanya fakta bahwa seluruh responden
yang diterapi dengan metode regresi kehidupan lampau, yang membantu
mengobati trauma atau sakit yang diderita, menunjukan reaksi yang diluar
pemikiran akal, yaitu secara sadar, walau dalam kondisi terhipnosis,
menceritakan fragmen-fragmen kehidupan mereka pada kehidupan sebelum
saat ini.
Beberapa orang percaya bahwa ada jiwa-jiwa di antara
kita, yang baru mengalami kehidupan pertama mereka di Bumi, (belum
pernah inkarnasi) dan ada juga beberapa jiwa yang lebih berpengalaman
yang telah tinggal berkali-kali sebelumnya (jiwa tua, biasanya dialami
orang-orang Indigo).
Nah, ini adalah pertanyaan yang harus. Anda
cari sendiri ketika mencoba untuk menentukan apakah Anda sudah pernah
tinggal di kehidupan sebelumnya. Dibawah ini Ciri dan Tandanya, yang
pernah saya pelajari.
Pertama. Kita memiliki mimpi yang sama
berulang-ulang. Mimpi adalah refleksi dari hal-hal yang kita lihat dalam
hidup kita, itu bukan sekedar ‘bunga tidur’. Apakah kita tahu, meski
semua tampak sangat asing, setiap momen dalam mimpi kita, adalah
kejadian yang telah kita lihat sebelumnya. Ini fakta yang memaksa saya
untuk menambahkan soal mimpi sebagai tanda, api mimpi yang berulang kali
teralami. Apakah Anda memiliki mimpi aneh, yang terjadi berulang-ulang
ketika tidur? Apakah orang-orang dan tempat-tempat dalam mimpi ini,
muncul untuk mewakili periode tertentu dalam sejarah? Dan ini merupakan
tanda bahwa jiwa Anda, mengingat kenangan dari kehidupan Anda
sebelumnya.
Kedua. Beberapa kenangan muncul kembali, dari tempat
yang dikunjungi. Hal ini cukup sering terjadi, khususnya pada
anak-anak. Anak-anak jauh lebih dekat ke titik persimpangan jiwa,
daripada orang dewasa, dan mereka sering mampu mengingat lebih mudah,
hal-hal dari masa lalu. Saat masih kecil atau sekarang. Apakah Anda
memiliki kenangan saat Anda berkunjung ke suatu tempat tertentu? Seperti
tiba-tiba muncul ikatan emosi dengan tempat itu? Memiliki tempat
kenangan, sepertinya tidak asing umumnya terjadi pada orang yang telah
memiliki kehidupan masa lalu, padahal kehidupan saat ini, belum pernah
mengunjungi tempat itu.
Ketiga. Kita sangat empatik. Orang yang
memiliki rasa empatik, memiliki sensitifitas tinggi. Mereka sering
langsung merasakan pengalaman orang-orang di sekitar mereka.
Kadang-kadang orang menggunakan empatinya, untuk melupakan masalah
mereka sendiri, dan memiliki rasa welas asih kepada orang lain. Dan itu
bisa menjadi tanda nyata, bahwa jiwa Anda memiliki reinkarnasi
sebelumnya, dan lebih diarahkan untuk perdamaian dunia daripada diri
sendiri.
Ke’empat. Kita “lebih bijaksana melampaui usia kita”
Pengalaman ini disebut teori “Soul Age”, yang menjelaskan bahwa jiwa
yang telah bereinkarnasi berkali-kali, mendapatkan usia yang jauh
melampaui kepribadian kita. Jika Anda dilahirkan sebagai seorang jiwa
yang baru, Anda mudah sekali terlihat dari perilaku dan cara bersikap
dalam menyikapi masalah. Jika Anda seorang jiwa yang lebih tua, itu
berarti menunjukkan, Anda telah bereinkarnasi berkali-kali. Salah satu
tandanya adalah tidak suka menyalahkan dan selalu memiliki cara pandang
dalam banyak sudut.
Kelima. Kita tidak memiliki hubungan kuat
dengan orang tua kita. Yang satu ini, hampir secara pasti dialami
anak-anak. Sebagai seorang anak, Anda mungkin seharusnya mencintai dan
menghormati orang tua Anda, tetapi Anda tidak memiliki rasa ketertarikan
untuk mereka. Mengapa? itu berarti inkarnasi Anda sebelumnya, mengalami
kematian saat usia belia, dan belum sempat mengenal orang tua Anda.
Apakah Anda pernah bermimpi memiliki orang tua lainnya? Bisakah Anda
mengingat nama-nama mereka dan dimana mereka tinggal? Ini merupakan
tanda yang mengarah bahwa Anda pernah lahir di kehidupan sebelumnya.
Ada banyak keyakinan tentang reinkarnasi. Beberapa orang percaya bahwa
kita berulang kali bereinkarnasi sebagai manusia, sampai kita
benar-benar belajar tentang pelajaran kehidupan sejati, dan kemudian
berpindah ke dimensi lain, yang lebih tinggi dari keberadaan. Anda tidak
harus percaya dengan artikel yang saya tulis ini. Tapi, akan lebih
baik. Anda saya anjurkan untuk lebih percaya kepada ketentuan (qadha’
dan qadar) Dzat Maha Suci dan mencatat setiap pengalaman Anda sendiri,
karena alam semesta ini, penuh dengan banyak misteri, yang kadang tidak
masuk akal. Dalam kehidupan, kita tidak boleh berhenti belajar mengenali
diri kita sendiri, dan hal-hal di sekitar kita. Karena setiap
pengalaman, semasa kita hidup, adalah guru terbaik bagi kita, agar jauh
lebih memahami hakikat Hidup didalam kehidupan ini.
Segala
sesuatu yang saya tuliskan di artikel ini, tidak bermaksud lain, selain
membagikan apa yang saya alami di sepanjang perjalanan laku spiritual
hakikat hidup pribadi saya sendiri. Dengan niat yang tulus untuk berbagi
tentang kesadaran, diluar batas sebagai organisasi, paham, atau bahkan
agama. Saya netral menuliskan semuanya dalam iman cinta kasih sayang,
dan saya yakin semua orang bisa merasakannya. Sekali lagi, satu-satunya
sarana untuk mengenali kebenaran, hanyalah dengan menggunakan hati/rasa,
di setiap kali membaca atau mendengar atau menerima informasi tertentu,
tanyakan pada hati/rasa, apakah hal yang Anda terima sesuai dengan
keyakinan diri sendiri? Jika jawabannya tidak, Anda bisa
mengembalikannya kepada Dzat Maha Suci. Tanpa penilaian akal atau
menghakimi apapun dan siapapun.